Rabu, 17 Juli 2019

Ketika Menolong Seseorang Menjadi Boomerang




Assalamualaikum..

Pernah nggak sih, kita udah ngrasa ikhlas banget membantu sesama yang membutuhkan, di suatu hari orang tersebut bukan balas budi malah menuduh yang nggak baik sama kita?

Ketika seseorang membutuhkan bantuan kita, yang mungkin sudah mentok, nggak ada orang lain yang bisa bantu kecuali kita, maka naluri dalam hati bakal terketuk untuk membantu apa yang jadi beban permasalahannya.



Sebenarnya, kita membantu dasarnya ikhlas aja tanpa ingin dapat imbalan, pujian atau apapun.
Tapi lambat laun bisa berubah, saat kita sudah nggak dibutuhkan lagi. Jadi kayak sampah yang nggak ada gunanya.
Satu hal kecil aja sudah cukup memporak-porandakan kepercayaan, dan akhirnya kita lah yang seolah buruk dimata mereka.
Ya.. sadar aja, memang kalau kita masih kalah kasta. Membela diri macam apapun nggak akan ada guna.





Ibaratnya kita dibawah bukit dan mereka sudah di puncak bukit.
Mereka dengan bangga karena bisa melihat kemanapun, bangga sudah berada di puncak, mereka lupa pernah susah dan butuh pertolongan kita ketika masih dibawah.
Berbanding terbalik dengan kita yang masih dibawah, hanya bisa jalan ditempat dan ketika merasakan ketidak adilan pun hanya bisa menelan pahit.

Aku ingin membahas sedikit tentang status sosial media.
Apa sih manfaatnya tiap perasaan kita entah itu susah, senang, sedih, bahagia atau apalah di buat status.
Apa yang diharapkan?
Simpati??
Toh ya, kalau kamu sakit belum tentu ada yang jenguk!
Kalau kamu susah belum tentu ada yang nolong!
Kalau kamu laper belum tentu juga ada yang bawain makanan!
Apa lagi bikin status menyinggung seseorang yang jelas-jelas dia berteman sama kamu.
Iya kalau dia memang melakukan kesalahan seperti yang kamu tuduhkan.
Lah kalau enggak? Gimana?!
Astaghfirullah.. dan ketika orang itu baca, gimana perasaannya?

Mengutip dari banyak sumber termasuk artikel, seminar dan ceramah agama.
"Bijaklah bersosial media"
Sebenarnya isinya panjang, tapi cukup pahami saja maknanya.
Karena yang dulunya ada ungkapan "mulutmu harimaumu" sekarang sudah berubah "jarimu harimaumu"

Wassalamu'alaikum..

2 komentar:

  1. menolong tidak akan rugi dan tidak akan jadi boomerang karena balasan sebenarnya bukan dari orang yang kita tolong melainkan dari Allah hanya melaluinya bisa dari apa saja atau siapa saja, landasilah semua perbuatan abaik kita karena Allah, kata ustadz lho..bukan kata saya....

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih pencerahannya pak agus..
      Jangan2 ustadz nya itu pak agus agus sendiri, jadi pengen ngaji nih 😄

      Hapus