Kamis, 21 November 2019

Sepenggal Kisah #LayanganPutus Versi Keluarga Kami


Assalamualaikum..

Awalnya saya tidak terlalu suka membicarakan tentang hidup saya, tentang masa kecil saya. Tapi berita di media sosial yang sempat viral kemarin ini seolah menggerakkan otak dan jari saya untuk menuliskannya. Bukan bertujuan untuk menjual kisah hidup, bukan pula ingin viral layaknya mommi asf, sungguh bukan. Saya hanya ikut merasakan apa yang di alami mommi dalam cerita layangan putus tersebut.

Saat ini lepas magrib diluar hujan gerimis nan dingin. saya sedang menggendong bayi saya yang berusia tiga bulan, dia amat manis dengan kulit yang lebih coklat dari saudara-saudaranya ketika masih kecil dulu tapi tak mengurangi kelucuannya. Bayiku sudah bisa tengkurap sendiri, tersenyum bila di ajak bicara dan suka berceloteh manja.

Waktu itu tahun 1989, di usia sekian juga bapak pergi meninggalkan kami, simbok, emak dan ke tiga saudara laki-laki saya. Kami empat bersaudara dan saya satu-satunya perempuan. Simbok sebenarnya bukan ibu asli bapak, simbok adalah saudara dari ibu nya bapak atau bisa di bilang bu dhe. Tapi karena simbok tidak memiliki anak jadi bapak lah yang di asuh oleh simbok.

Niat awal bapak pergi ke Pulau Kalimantan untuk bekerja demi menopang perekonomian keluarga dan berjanji akan pulang sebulan sekali. Semua merestui kepergiannya karena memang demi keluarga. Saat itupun saya dan kakak nomer tiga saya masih amat kecil untuk mengerti apa yang terjadi.

Sepeninggal bapak, simbok berdagang bubur sumsum demi memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, emak pun tak mau diam di rumah segala macam pekerjaan beliau lakoni demi kami, bocah-bocah kecil yang butuh makan dan sekolah, hari berganti bulan berlalu tapi bapak tak kunjung pulang, jangan kan pulang bahkan bapak tak pernah mengirimkan uang barang sepeser pun. Ibarat sayap yang patah sebelah emak dan simbok mati-matian mencari uang demi kami.

Saat usia saya tiga tahun tepatnya di tahun 1992. saya, emak dan kak ji sepupu saya. pernah pergi ke Kalimantan, perjalanan kami tempuh naik kapal laut. Lagi-lagi waktu itu saya teramat kecil untuk mengerti tujuan saya dan emak datang kesana. Di sana saya menumpang di rumah kerabat jauh yang sudah lama merantau ke sana, H.Rupini nama itulah yang hingga sekarang masih lekat dalam ingatan saya, mak kaji begitu saya biasa memanggilnya memiliki anak laki-laki yang biasa saya panggil kak Udin, kabar terakhir saya dapatkan katanya kak Udin sudah menjadi dokter di sana, Alhamdulillah mereka orang baik semoga di kelilingi oleh kebaikan juga.

Sewaktu di sana emak suka membantu pekerjaan rumah setelahnya emak biasa menunggui toko cemilan di depan rumah emak kaji. Selama di sana saya memiliki teman sepantaran dia baik sekali namanya Lia seingat saya rambutnya ikal anaknya tante Irus. Ayahnya Lia, saya lupa siapa nama beliau. bekerja di tambang batu bara sebagai sopir pengangkut batu bara. Saya sering di ajak naik truk ke penambangan. Ada lagi tante Ida yang berperawakan gendut putih kalau tidak salah mereka tidak memiliki anak. Suaminya bekerja sebagai penyadap getah karet sama seperti kak Ji. tapi sekarang tante Ida sudah meninggal, semoga dilapangkan kuburnya dan diampuni dosanya. Ah.. mereka orang-orang baik semoga Allah senantiasa memberi mereka kebaikan.

Seringnya waktu pagi saya di ajak bersepeda ke kebun karet, kadang juga di ajak ke penambangan batu bara. Dan saat siang selalu bermain dengan Lia karena waktu itu kami belum bersekolah. Saya jadi teringat anak ke dua saya, kakak Rere dari lahir hingga kelas dua MI memiliki sahabat bernama Alin, tapi sekarang dia sudah pindah ke Surabaya. Sama seperti Alin dan kakak Rere, ketika saya pulang ke Jawa tentu saja Lia merasa kehilangan. Saat di Kalimantan kami seolah memiliki keluarga baru. Pernah suatu hari saat saya ke kamar mandi karena di luar tidak ada atapnya saat saya mendongak ke atas saya melihat orang utan melewati atap. Saya sangat takut sekali, segera berlari keluar dan menangis. Waktu itu disana memang dekat dengan hutan. Rumahnya pun rata-rata model panggung. Entah sekarang bagaimana, jelas sangat berubah.

Ketika saya menulis ini, entah mengapa rasa haru menyeruak memenuhi hati. Rasa rindu yang teramat sangat datang tiba-tiba. Ingin rasanya sekedar melihat wajah-wajah orang baik yang pernah menemani kami sewaktu di sana. Rindu mereka, rindu pula pada tempat-tempat yang pernah saya datangi. Tapi bagaimana cara mencari mereka, atau sosial media mereka. bahkan alamat mereka pun saya tak punya. Ingin menanyakan pada emak alamat terakhir mereka tapi saya takut emak salah pengertian.

Kembali pada tujuan kami ke sana ialah mencari bapak, dan bapak memang kami temukan. Dia tidak hilang, rumahnya pun kami tau, tidak penah sekalipun hilang hanya tidak memberi kabar pada keluarga di Jawa. Kami beberapa kali bertemu, entah berapa kali, beberapa kali atau sering saya juga tidak ingat. Yang saya ingat ketika saya di dekati bapak, saya tidak mau. Saya merasa dia seperti orang asing, seumur hidup saya tidak pernah melihatnya. Pernah satu waktu saya di ajak kak Ji ke rumahnya, ada istri baru dan anak-anak nya juga tapi saya merasa biasa saja, mungkin karena waktu itu saya masih kecil dan belum memahami apapun. Ya.. selama di Kalimantan, bapak memang sudah berkeluarga lagi dengan seorang wanita suku Dayak dan sudah memiliki anak, entah berapa saya tak tahu.

Setiap malam saya tidur dengan emak, tapi pernah suatu malam saat saya terbangun tengah malam ada orang itu tidur di sebelah saya, pertanyaan pertama mengapa orang ini tidur disini sontak saya terkejut dan menangis. Saya tak mau berdekatan dengan orang itu. Pedih sungguh rasa di hati ketika saya mengingat hal ini, saya tidak memiliki kenangan manis apapun tentang bapak, bahkan saya pun tak mengenalnya, terasa biasa saja jadi sedari kecil saya malas membicarakan tentang bapak. Pernah suatu kali saya menemukan draf surat yang akan dikirimkan kepada bapak yang ditulis dengan tangan tapi mengapa urung dikirim, yang saya ingat alamat di surat tersebut tertulis Pulau Pinang, Binuang, Tapin.

Sekian banyak tulisannya intinya menanyakan kabar dan mengharap kepulangannya. Ada satu kalimat yang membuat saya menangis waktu itu, dalam surat tertulis saya pernah bertanya pada emak "mak, mat (sepupu saya) kok punya bapak tapi aku kok tidak?". Jelas hati siapa yang tak hancur mendengar kalimat itu terucap dari mulut kecil yang belum paham apa yang terjadi. Dan ternyata itulah awal emak akhirnya nekat menyusul bapak ke Kalimantan dengan harapan bapak bisa di ajak pulang ke Jawa lagi.

Tapi takdir berkata lain, selama 8 bulan berada di sana. Tak mampu membuat bapak berubah pikiran. Bapak lebih memilih istri baru dan keluarganya. Dan hidup harus tetap berjalan, kami harus pulang karena masih ada tiga saudara laki-laki dan simbok di rumah yang menanti kami. Kami pun pulang di antar mak kaji, kak Udin dan para tetangga beramai-ramai mengantar sampai ke pelabuhan, padahal jarak rumah dan pelabuhan cukup jauh, tapi mereka mengantarkan sampai kami naik kapal dan sampai kapal melaju. Entah bapak ikut mengantar atau tidak saya tidak ingat, yang saya ingat para tetangga menangis bergantian saling memeluk saya dan emak. Pelukan Lia sampai sekarang masih saya ingat. Lia bagaimana cara mencari mu?

Sesampai di rumah saya merasa seperti orang asing lagi, berkulit bersih, berbahasa Indonesia. Bahkan saya lupa bahasa Jawa yang biasa saya gunakan sebelum ke Kalimantan. Pernah cak min bercerita setelah saya pulang cak min malu mau mengajak saya berbicara dia tak fasih berbahasa Indonesia pakai bahasa jawa juga saya tidak paham jadi dia tahan dan hanya bisa memendam Rindu ingin memeluk.

Sungguh cerita-cerita tersebut terasa menyayat hati. Kepergian kami mencari bapak, saya merasa bahagia bisa mendapat tetangga dan kawan baru juga mengunjungi tempat baru tapi apa kabar dengan simbok dan ketiga saudara lelaki saya? Sedang apa mereka? Makan apa? Sehat kah? Pertanyaan seperti itu yang baru terlintas di benak ketika saya sudah besar. Simbok, cacak maafkan kami yang meninggalkan kalian dan tak membawa hasil seperti yang kalian harapkan.

Tentu kami terluka sekali terutama emak dan simbok tapi hidup terus berjalan tak mungkin Terus-terusan meratapi kepedihan. Akhirnya emak memutuskan mencari kerja di Surabaya, saat siang bekerja di pabrik garam, sepulang dari pabrik sore hingga tengah malam membantu di warung bakso. Dari dulu ketika berangkat dan pulang kerja emak selalu jalan kaki dan letak pabrik dengan kos emak sekitar 3km. Itu selalu dilakukan demi menghemat uang, lumayan uang yang seharusnya buat bayar angkot bisa buat jajan kami, begitu pikirnya. Emak pun jarang pulang, beliau bisa berbulan-bulan tak pulang. Bukan tak rindu juga bukan tanpa alasan seperti bapak namun yang beliau pikirkan bagaimana cara bisa mendapat uang untuk memberi makan simbok dan ke empat anaknya juga untuk biaya sekolah.

Saat rindu tak dapat lagi di bendung emak akan pulang minggu pagi dan berangkat lagi pukul 3 sore. Dan tiap emak berangkat saya pasti menangis, jelas rasa rindu ini belum tuntas. Emak yang jarang pulang, saat pulang pun hanya sebentar. Sekitar tiga jam saja saya bertemu karena saya baru pulang sekolah pukul 12 siang lalu jam 3 emak sudah berangkat lagi. Selalu terburu-buru karena sesampai di Surabaya langsung membantu di warung bakso hingga tengah malam lagi.

Pernah hati ini iri pada teman-teman yang selalu di dampingi orang tuanya, ketika pengambilan rapot emak tak pulang, rapot saya selalu di ambil paman yang kebetulan punya anak yang bersekolah sama dengan saya. Saat wisuda ngaji dan wisuda sekolah semua teman di dampingi orang tua, saya tidak tapi saya berusaha tegar. Saya tidak mempermasalahkan itu karena saya tahu emak sedang berjuang demi kami, jadi kalau pihak sekolah mengijinkan maka emak tak perlu harus datang. Tapi emak selalu pulang ketika karnaval agustusan keliling desa tiba, emak selalu pulang dan menyusul saya di perempatan jalan sebelah rumah membawakan payung dan wedang asem juga disambut senyum emak yang berdiri diantara para penonton karnaval, mata ini mencari-cari dimana emak dan ketika sudah saling tatap maka emak akan berjalan di samping saya dan memayungi saya. Bahagia sungguh rasa hati, momen kecil seperti ini saja saya sudah teramat bahagia. Emak terima kasih.

Semua itu emak lakukan demi kami semua tanpa kenal rasa lelah. hanya satu yang beliau pikir "biarlah hidup saya susah asalkan anak-anak saya nantinya bisa hidup enak!". Sering kali emak berucap demikian, mungkin itu ungkapan ketika lelah tubuh dan hatinya sudah memuncak tapi diredam dengan caranya sendiri.
Setelah saya menikah emak baru mau melepaskan salah satu pekerjaannya, berhenti dari membantu berjualan bakso tapi tiap hari masih ke pabrik. beberapa  kali kami membujuk emak untuk istirahat di rumah saja tapi emak tak mau, beliau bersikeras jika badan masih mampu untuk bekerja maka emak ingin selalu bekerja dan jika nanti ketika tubuh sudah letih maka emak akan pulang kampung! Itulah yang selalu di ucapkan emak bila kami bujuk untuk berhenti bekerja.

Emak adalah sosok yang baik, tempat sharing yang nyaman, emak tipe orang yang kalem tidak suka marah-marah, pekerja keras, di usia yang mendekati 60 tahun masih terlihat jelas gurat kecantikannya. Banyak yang bilang dimasa muda emak sangat cantik, bahkan ketika keriput mulai muncul di wajahnya pun emak tetap terlihat menentramkan.

Emak terima kasih atas segalanya, terima kasih atas cinta dan pengorbanannya. Memang kasih emak tak terlihat tapi kami semua dapat merasakannya.
Sehat selalu, emak..

8 komentar:

  1. Terharu kalau mengingat masa itu...
    ada rasa Sedih ada Senang..

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ya dan jalan terbaik adalah mengikhlaskan segala kehendak Nya..
      Dan semoga nasib baik selalu menyertai kitašŸ¤²

      Hapus
  2. Touched story, Mbak.
    *BIGHUG*
    Saya ga bisa berkata apa-apa selain "masa lalu yang kurang manis itu ternyata membentuk pondasi kuat kepribadian kita" Keep going yaaa.

    Salam hangat dari Bali :*

    BalasHapus
    Balasan
    1. Makasih mbak,, setidaknya bisa buat reminder tentang masa kecil saya agar lebih kuat lagi menghadapi tantangan hidup..

      Hapus
  3. salut untuk ibunya mba.. kuat dan sabar sekali beliau.. Pasti berat sekali melihat suami ternyata sudah punay keluarga baru. Tapi hidup kadang memang kejam. Hanya saja kalo kita mampu melewatinya, semoga itu bisa bikin kita jauh lebih kuat

    BalasHapus
    Balasan
    1. makasih mbak dan alhamdulillah kami bisa melewati semua ujian ini, semoga allah mengganti semua dengan hal yang indah nantinya.

      Hapus
  4. semoga emak dan ayahnya sihat selalu.. mama dah xde mak dan ayah tiada tempat menumpang kasih

    BalasHapus
    Balasan
    1. terima kasih mama, semoga kita selalu di anugerahi kebaikan dan kesehatan dari allah..

      Hapus