Kamis, 07 November 2019

Writing Is Healing


Assalamualaikum..

Apakah teman sudah bisa mengenali karakter diri sendiri dan lingkungan kecil khususnya keluarga? Sejujurnya kadang saya masih belum bisa menilai diri saya sendiri. Lho kok gitu? Iya.. karena saya belum tahu betul apa keahlian saya selain menuliskan uneg-uneg yang bersarang di kepala dan hati.

Tapi saya merasakan betul manfaat dari writing is healing. Yap menulis itu ibarat obat! Ketika saya merasa marah atau kecewa, kalau saya utarakan secara langsung maka jadinya akan berbentuk marah-marah. Tapi ketika saya tahan dan menuliskannya sebagai bentuk dari kekecewaan saya maka bentuk amarah yang tadinya ibarat gunung es akan mencair sedikit demi sedikit dan mengalir menjadi sungai.

Yah... Isinya malah ingin curhat.. gak apa-apa kan? Wkwkwk

Saya sebenarnya tipe orang tua yang santai asal teratur, yang harusnya jam berapa di kerjakan maka harus dikerjakan. Misalkan anak-anak mandi pagi jam 5.50 paling lambat jam 6 pas lah, tapi kalau lebih dari itu ya saya akan mulai banyak bicara (ngomel ding..!) Karena saya paham jadwal sekolah jam 6.30 sudah harus berada di sekolah untuk persiapan sholat dhuha dan lainnya. Jadi kalau untuk mandi saja lewat jam yang ditentukan maka efeknya prepare sekolahnya akan terburu-buru, bisa juga terlambat.

Dan kalau sore hari menjelang saya menjadwalkan anak saya untuk menyapu ruang tamu dan sesekali halaman jika daun jambu biji dan jambu air yang tumbuh rimbun di depan rumah menggugurkan daunnya. Hanya itu yang saya tugaskan kepada gadis sulung saya tapi kadang karena keasyikan main dengan teman-teman nya atau juga terlalu asyik main hape sampai lupa tugasnya, dan tugasnya pun bisa terbengkalai. Kecewa tentu saja, saya hanya meminta sedikit bantuan karena saya tau sepulang sekolah jam 13 lewat dia lelah maka saya biarkan istirahat dulu sambil bermain hape. Kemudian selesai magrib waktunya mengaji dan dilanjut dengan les pelajaran sekolah esok hari. Maka saya memberi dia banyak kelonggaran.

Apalagi saya juga tipe orang yang suka mengerjakan satu atau beberapa hal sendiri, alasannya biar lebih cepat selesai ada alasan lain yang saya sangat tidak suka yaitu kalau saya meminta tolong sesuatu dan tidak dikerjakan maka saya akan cepat kecewa dan yang paling parah maka saya akan marah. Untuk menghindari hal tersebut maka saya lebih suka mengerjakannya sendiri.

Jadi ketika saya menugaskan satu hal yang harusnya dikerjakan setiap hari dan dia lalai maka terkadang amarah suka meledak-ledak, setelah di keluarkan lewat kata-kata maka akan reda. Tapi setelah itu baru akan timbul penyesalan sudah memarahi anak saya. Menghindari hal tersebut saya lebih suka menuliskan ungkapan kecewa saya dalam bentuk tulisan yang menghindarkan saya dari berkata kasar dan terlukanya perasaan anak saya. Saya cukup mengingatkannya biarpun itu harus berulang-ulang. Semoga seiring bertambahnya usia anak maka pengertiannya terhadap tanggung jawab kian besar.

Sekian dulu uneg-uneg saya, kalau terlalu panjang nanti malah jadi novel dan di film kan dengan judul "emak ku tukang marah-marah" kan gak lucu..

Wassalam..

2 komentar:

  1. Samaaaa nih hahaha

    Saya juga paling nggak suka menunda-nunda.
    yang mana, kayaknya anak saya senang banget menunda-nunda.
    Giliran sudah mau telat, dilakukan asal-asalan.bikin bete :D

    Biarin deh saya ngomel, asal anak saya tumbuh jadi anak yang disiplin terhadap waktu :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Kadang suka heran juga kak, anak2 tuh hobi nguji sabarnya orang tua gitu ya.. hehehe

      Hapus