Senin, 30 Desember 2019

Kesenian Tanjidor Nurus Salafiyah Desa Pucangro Kalitengah Lamongan

Picture by romadecade.org

Assalamualaikum..

Kali ini saya mau bahas tentang kesenian daerah nih, tentunya di Indonesia tercinta yang memiliki kesenian khas daerah masing-masing. Jaman dulu para wali yang menyebarkan ajaran agama Islam di pulau Jawa juga menggunakan kesenian sebagai metode dakwahnya.

Awal mula terbentuknya kesenian tanjidor Pucangro.

Diceritakan sunan Bonang menciptakan lagu tombo ati. Sunan Kalijaga  menciptakan lagu lir ilir dan juga menggunakan wayang sebagai media dakwah. Sunan Sendang Duwur pun menggunakan kesenian tanjidor sebagai metode dakwah.

Nah dari sunan Sendang Duwur inilah banyak bermunculan grup seni tanjidor. Termasuk di desa Pucangro kecamatan Kalitengah kabupaten Lamongan. Pada tahun 1965 disini pun sudah ada grup tanjidor yang akhirnya harus vakum entah apa sebabnya.

Dan pada tahun 2001 grup ini berdiri kembali yang di gagas oleh bapak H. Ma'ruf yang berguru langsung ke desa Sendang Duwur. Beliau mendirikan grup tanjidor yang diberi nama Nurus salafiyah, beranggotakan 12 orang yang terbagi sebagai pemegang jidor 1 orang, kendang 2 orang, gendung 1 orang, terbang(rebana) 8 orang dan vokal 1 orang.

Gambus Tanjidor.

Seiring perkembangan jaman grup ini pun mengembangkan sayapnya menjadi gambus tanjidor. Jika personil khas tanjidor ada 12 orang, jadi kalau yang punya hajat request nya pakai gambus maka total personil menjadi 18 karena ada penambahan pada orgen 2 orang, bas gitar 1 orang, kendang dangdut 1 orang, kecer 1 orang dan symbal 1 orang. Itupun belum termasuk vokal dan baking vokal tambahan.

Pemain kesenian ini rata-rata usianya sudah matang, kisaran angka 65 hingga 70 tahun.

Kesenian ini biasanya ada ketika diundang untuk mengisi acara hajatan khitan juga nikahan. Jam nya tidak sembarangan, kita bisa mendengarkan irama yang khas tersebut kira-kira 3kali yaitu setelah ashar, setelah sholat magrib sebentar kemudian selepas isya.

Hampir lupa, ada satu lagi kesenian daerah Lamongan yang juga kembali hits saat ini, ulasan lengkapnya di Kesenian tongklek

Sayangnya tahun ini grup tanjidor yang sudah melanglang buana selama 18 tahun harus menghentikan langkahnya karena personil yang rata-rata sudah berumur harus istirahat karena sakit, terhitung ada 6 orang yang terkena stroke. Semoga saja beliau-beliau ini cepet sembuh ya, jadi bisa beraktivitas seperti sedia kala.

Begitu juga bagi penikmat kesenian ini agar tidak sampai punah karena nadanya yang khas juga memberi kesan tersendiri bagi penikmatnya.

15 komentar:

  1. Sayang sekali kalau nggak ada penerusnya ya. Bisa di bilang pemainnya sudah usia kakek/nenek semua.

    BalasHapus
  2. saya taunya tanjidor dari betawi, ternyata sejarahnya ada Lamongan ya, sebagai medium utk menyebarkan islam. hmm, thx infonya

    BalasHapus
  3. Waaah tanjidor bisa diduet sama gambus yaaaa. Jadi ingat emak saya yg suka nge-gambus di kampung. Hehehe. Sayang tanjidor semakin terkikis ya. Semoga tetap lestari di tangan generasi muda Betawi.

    BalasHapus
  4. Sering merasa miris, saat ada kesenian tradisional seperti Tanjidor ini musti menghadapi kenyataan jaman yang minim penerus. Kalau di Jawa Tengah, seni gamelan dijadikan pelajaran muatan lokal di SD SMP. Smoga Tanjidor juga berlaku hal serupa.

    BalasHapus
  5. Kukira tanjidor itu dari Betawi? Ternyata di Lamongan juga ada. Kesenian daerah setuju banget kalau bisa dilestarikan.

    BalasHapus
  6. Wah sayang banget kalo kesenian tradisional kaya gini sampai hilang, emang ya dengan perkembangan dunia musik sekarang membuat anak muda jarang melirik kesenian musik tradisional lagi.

    BalasHapus
  7. Tanjidor ku kira punya betawi, semoga ada regenaraai biar ga punah kesenian seperti ini. Lagipula jarang ditemukan kesenian tanjidor.

    BalasHapus
  8. Awalnya saya pikir ini Tanjidor yang di Jakarta,.. budaya betawi.. rupanya di Lamongan juga ada ya kak

    BalasHapus
  9. Perlu regenerasi nih. Seandainya yang tua mau mengajari dan memberikan kesempatan buat para pemuda pasti bisa lestari

    BalasHapus
  10. Kesenian tradisional memang banyak yang kondisinya memperihatinkan, karena terlambatnya proses regenerasi. Kadang baru diketahui keadaannya agak terlambat. Di sini juga ada 2 kesenian sepeti ini yang sedang dalam upaya serius untuk regenerasi. Dan coba tebak, yang paling cepat melakukannya malah yang usianya 40 tahun ke atas, yang punya kenangan indah akan musik tradisional itu ketika kecil.

    Semoga segera ada regenerasi yang sama jayanya seperti beliau-beliau.

    BalasHapus
  11. Sayang banget ya kalau mesti vakum karena personil yang berumur, semoga kesenian seperti Tanjidor ini bisa terus melanjutkan kiprahnya dengan regenerasi, harus ada yang menyadarkan generasi muda untuk meneruskan kesenian ini

    BalasHapus
  12. Sedih banget baca endingnya
    Anak-anak mudanya kok gak ada yang jadi penerus ya
    Sayang banget kalau sampai hilang karena gak ada pewarisnya hiks

    BalasHapus
  13. Menarik kalau ditelisik lebih jauh mengapa tanjidor yang notabene peninggalan Sunan Sendang Duwur asal Lamongan ini malah populer di Betawi.

    BalasHapus
  14. wah,, sebelumnya aku pikir tanjidor cuma ada di betawi doang, ternyata di sini juga ada ya

    BalasHapus
  15. Alhamdulillah, berkat para ulama kesenian ini juga masih berkembang hingga saat ini

    BalasHapus