Jumat, 07 Februari 2020

Story Di Tunjuk Menjadi Kader Posbindu


Sebenarnya saya sedikit galau nih teman, ceeileee pakai galau kayak anak ABG aja..

Tapi emang iya sih, karena beberapa waktu yang lalu, seorang kurir dari balai desa datang mengantarkan surat. Awalnya bingung tumben-tumbenan dapat surat dari balai desa dan nama yang tertera di surat ya nama saya.

Pas saya buka ternyata undangan untuk rapat POSBINDU malam nanti ba'da isya, what??? Apa itu POSBINDU??? Apa cuma saya yang belum tau istilah itu?? (Ketauan deh bodoh nya.. wkwkwk) awalnya mikir kok mirip kayak posyandu ya, jadi saya langsung menghubungi sepupu saya yang bekerja sebagai petugas kesehatan desa. Tapi karena lama nggak di balas jadi inisiatif googling aja deh.

Dan menurut situs resmi Dinkes, Posbindu PTM merupakan peran serta masyarakat dalam kegiatan deteksi dini, monitoring dan tindak lanjut faktor resiko Penyakit Tidak Menular (PTM) secara mandiri dan berkesinambungan.

Kegiatan ini dikembangkan sebagai bentuk kewaspadaan dini masyarakat dalam mengendalikan faktor resiko PTM karena pada umumnya faktor resiko PTM tidak bergejala dan seringkali masyarakat datang ke fasilitas pelayanan kesehatan dalam keadaan komplikasi

Abis googling, mikir keras nih ceritanya. Kenapa saya dapat undangan tersebut? Nggak lama sepupu saya jawab pertanyaan saya tadi yang kira-kira jawabannya hampir mirip sama yang saya googling tadi dan saya nanya lagi dong, kenapa saya di undang? Mbak Nik cuma jawab, nggak tau dek, kita petugas kesehatan nggak ada yang tau siapa aja yang di undang karena yang nunjuk ya pak kades sama bu kades sendiri, yang kami tau perkiraan satu desa hanya 7 orang yang di undang jadi satu kader menghandle 2 RT.

What's??? Pertanyaan di kepala makin banyak. Setelah diskusi dengan suami, akhirnya saya memutuskan untuk datang, lagian nggak enak kan kalau nggak hadir. Suami cuma bilang, yang penting hadir aja dulu. Urusan gimana kedepannya ya di pikir nanti, toh kita belum tau di suruh apa atau gimana.

Sebenarnya ini bukan pertama kalinya di undang rapat di baldes, karena beberapa tahun yang lalu saya dan mbak Rit menjadi kader Bank Sampah RT, tapi kemudian tugas nya kami alih kan ke ibu-ibu yang lain jadi sekarang saya cuma jadi anggota tetap aja.

Pas berangkat abis isya, si baby sudah tidur jadi saya tinggal sama kakak-kakak nya, dengan catatan kalau dia bangun si kakak harus langsung telpon saya karena pak su lagi ada acara pengajian di rumah teman.

Sampai di baldes sudah banyak orang yang ternyata, ada pak RT sebanyak 14 orang, kader jumantik 14 orang dan yang baru gabung termasuk saya ada 5 orang.
Pak kades sedang memberi sambutan

Waktu pak kades memberikan sambutan, juga beberapa poin termasuk mengapa di bentuk posbindu dan mengapa kami di tunjuk, waktu itu memang beliau menjelaskan intinya seperti ini "njenengan nggak perlu minder kalau ada yang nggak sekolah tinggi tapi kok ditunjuk jadi kader, saya memilih njenengan karena saya anggap mampu". Karena waktu itu kami duduknya membaur jadi ya nggak jelas, maksud pak kades itu ditujukan untuk siapa.

Setelahnya kami berpencar mengikuti kelompok masing-masing, yaitu kader jumantik dan kader posbindu. Nah dari sini saya auto minder karena semua orang yang ditunjuk jadi kader posbindu ternyata mereka anak kuliahan semua. Dan siapa lah saya yang nggak pernah nyemilin bangku kuliah.. hehehe.. dan langsung merasa kalau perkataan pak kades tadi mungkin buat saya (ke GR-an)

Kalau pas dateng ke satu event blogger bareng anak kuliahan sih sudah biasa, teman-teman blogger saya juga mayoritas anak kuliahan semua, tapi ini untuk pertama kalinya saya di tunjuk satu grup yang notabene punya ijazah S1 semua tapi di desa sendiri, rasanya itu gimana ya, seperti permen nano-nano lah kira-kira.

Tapi ya sudahlah, saya harus mengesampingkan rasa malu dan minder. Kalo ada orang yang percaya saya mampu dan bisa, itu berarti beliau sudah mempercayai kemampuan saya kan. Jadi tinggal bagaimana cara saya mempertanggung jawabkan kepercayaan tersebut.

4 komentar:

  1. Ditempat saya juga da posbindu, mereka aktif sekali keliling dan menemui warganya,
    ternyata didaerah lain juga ada. Berarti ini memang menjadi program pemerintah secara nasional ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya bang harusnya semua wilayah mengikuti karena ini program pemerintah tapi selama ini baru beberapa tempat saja yg mengikuti.
      Mungkin karena program nya terhitung baru jadi masih butuh penyesuaian.

      Hapus
  2. Haha...sebagai orang desa, saya kerap menemui banyak sarjana dari desa saya, tapi saat diajak ikut aktif di desa, mereka rada susah. Ternyata tulisan ini menjawabnya.

    Salam kenal dulu Mba? Dari Anak Desa...

    BalasHapus
  3. Salam kenal juga kak, makasih sudah mampir.
    Emang bener banget lho, di desa banyak yang lulusan sarjana tapi kalo di ajak aktif di kegiatan pada ogah2an. Nggak tau alasannya apa tapi saya rasa kok sayang banget ya, kalo mereka bisa memberikan sumbangsih buat desa mereka sendiri pastinya jadi suatu kebanggan ya..

    BalasHapus