Rumah saya seperti pulau terpencil. Hehe..

Hai guys, gimana kabarnya semoga masih kuat, sehat dan waras selalu buat menghadapi virus Corona ini ya.

Kalau bicara soal beberapa hal yang kurang baik, kita semua tau Ibu Pertiwi sedang bersedih, jadi pengen nyanyi sambil menghayati betul-betul


"Ku lihat Ibu Pertiwi, sedang bersedih hati. Air matanya berlinang, mas intan yang kau kenang. Hutan, gunung, sawah, lautan, simpanan kekayaan. Kini ibu sedang lara merintih dan berdoa".


Di awal tahun Jakarta sudah kebanjiran, berikutnya gunung meletus, lanjut virus Covid-19 dan beberapa hari ini di tempat tinggal saya banjir, bukan hanya di desa yang banjir, di dalam kota Lamongan juga banjir hampir di sebagian tempat.

Jalanan yang terendam air

Jalan utama depan rumah sepupu saya. 

Mulai dari jalan raya depan desa air sudah menyambut, masuk ke desa sudah langsung terlihat air bengawan dan got yang meluber, rumah yang letaknya lebih rendah sudah pasti kemasukan air, warga desa berusaha sekuat tenaga untuk mengeluarkan air keluar desa, banjir bertahan dua hari setelah sempat surut sore sampai malam tapi sekitar jam 9 mulai hujan lagi. Air pun naik malah lebih tinggi dari sebelumnya.

Kakak Rere bahagia main air.

Kakak Rere, kakak Abell dan mbak Lady

Saya nggak bisa membayangkan gimana susahnya kalau rumah kemasukan air dan ada bayi pasti ribet sekali ya, apalagi si bayi yang sekarang sudah usia 8,5 bulan lagi aktif-aktifnya merangkak dan mengeksplorasi sekitarnya.

Alhamdulillah untuk sekian kalinya air di dalam desa sekarang sudah surut, tapi air di luar desa lebih tinggi dan tangkis/tanggul air sering jebol di beberapa titik jadi bapak-bapak sering kerja bakti untuk menambal titik yang jebol tersebut. Warga sini juga saling gotong royong jadi saling membantu.

Baby Hazel main air, hari berikutnya kakinya pada gatel merah-merah

Dipangku kakek di bawahnya air menggenang

Tiap tahun desa kami emang selalu banjir kalau sedang musim hujan tapi airnya selalu bisa di pompa keluar desa jadi banjirnya cuma di sungai yang mengelilingi desa tembus ke tambak ikan. Kalo di dalam desa biasanya cuma sampe kali dan got aja yang penuh air, selebihnya aman2 aja.

Kemarin sebenarnya disini jarang hujan, hampir lama nggak hujan malah. 2 kali hujan air langsung meluber kemana-mana, yang rumahnya lebih rendah dari jalan pasti airnya langsung masuk rumah sampai yang tidur di lantai, kasurnya jadi rakit kapuk alias kasurnya ikutan terombang-ambing dalam rumah, nggak nyadar lagi banjir karena air masuk tepat jam 12 malam.
Bagian dapur yang terendam air.

Si bayi ikutan kakaknya main air.

Dua hari kemudian air udah bisa di atasi, airnya di buang ke luar desa pakai pompa blower yang gedenya astaghfirullah.. jadi kami udah bisa bersih-bersih, ngepel, nyampah. rumah saya yang sebelumnya mirip pulau terpencil akhirnya sudah nemu daratan, cuma bagian dapur aja yang kemasukan air karena letak dapurnya emang rendah.

Baru sesore bebas dari banjir, malamnya hujan turun lagi dengan deras, paginya banjir lagi kan. Banjir kali ini lebih besar dan lebih tinggi juga lebih lebar. Rumah yang sebelumnya nggak tersentuh air pun udah bisa dengan lancar masuk tanpa permisi. Alhamdulillah untuk kesekian kalinya air dirumah nggak sampai masuk, cuma halaman depan, samping dan belakang yang penuh dengan air, jadi kalau mau kemana-mana ya mesti ngelewatin air.


Rumah sepupu saya airnya masuk sampai belakang rumah.

Banjir kali ini memang yang terparah, tapi mau gimana lagi. Warga juga sudah mengusahakan agar air nggak masuk desa tapi karena air sungai yang mengelilingi desa lebih tinggi jadi di beberapa titik tangkis/tanggul jebol, jadi warga harus kerja ekstra.

Banjir juga bisa di ambil plus minusnya ya guys, kabar baiknya karena air melimpah jadi sungai dan kali yang ada di sebelah tambak pada banyak ikan dan udangnya. Para bapak2 dan kakak2 pada nyari ikan pake bubu, jaring, jala atau pancing dan pasti dapet banyak.

Kabar kurang baiknya, karena sekat tambak udah nggak keliatan biarpun udah dipasang waring (maaf nggak ada fotonya, nggak sempat ke tambak) ikan kadang masih bisa melompat-lompat melewatin waring. Jadi ikan yg di tangkep tadi ya ikan tambak yang bisa meluncur bebas, hehe.. tapi ya sudahlah semoga nantinya kalo waktunya panen tetep bisa dapet hasil yang maksimal, amin..

Keadaan dalam rumah sepupu.

Rumah bibi sebelah rumah saya.

Ruang tamunya malah di buat main sama anak-anak, pakai ban pelampung juga.

Udah ya curhatnya, kalau kelamaan nanti pada bosen bacanya. Intinya saya cerita panjang lebar itu untuk kenangan suatu hari nanti bisa di ceritakan ke anak cucu, kalau ibu Pertiwi sedang bersedih hati, dari awal Januari sampe sekarang selalu ada cerita yang mengiringi mulai dari banjir JKT, gunung meletus, belum bebas semua hal tentang Corona sekarang banjir di tempat tinggal saya.

Padahal 9 hari lagi kita akan menyambut Ramadhan, dan kita masih belum bebas kemana-mana karena takut wabah itu. Yang ada di perantauan pun dihimbau nggak boleh pulang dulu demi keamanan dan keselamatan bersama.

Bismillah, semoga semua hal yang kurang baik ini segera berlalu dan berakhir. Amin..

12 Komentar

  1. Itulah hebatnya anak2, banjir parah tetap bergembira & main air hehe.. Lamongan baru kedengaran banjir parah seperti ini. Semoga bencana segera berakhir

    BalasHapus
  2. Nggak bisa bayangin gimana melewati semua itu...ada adek bayi lagi. Cuma bisa doa dari kejauhan nih, semoga banjir segera berlalu ya.. Dan diganti banjir rejeki. Aamiin..

    BalasHapus
  3. Wah kalau musim hujan harus sudah persiapan untuk menghadapi banjir ya. ..
    Kalau banjir kasihan yang punya tambak ya, ikannya pada keluar. Tapi semoga saja tidak banyak jumlahnya. ...

    BalasHapus
  4. Turut prihatin ya mba...Saya dengar kabar Lamongan banjir ini dari status Mas Rudi Belalang cerewet. Semoga banjir segera surut dan semuanya tetap semangat ya..

    BalasHapus
  5. Yaaa Alloh banjir sudah masuk ke desa yaa, semoga bisa melaluinya. Tetap jaga kebersihan dan dan kesehatan..
    Saya suka kok baca orang curhat di blog... Sedikitnya bisa plong ya❤️

    BalasHapus
  6. Subhanallah ya Mbak Fionaz... udahlah wabah pandemik Covid-19 plus banjir lagi, bersabar ya Mbak... semoga sehat selalu sekeluarga. Palagi kl masih punya balita ya suka lincah gerak ke sana-sini eh banjir, mesti hati2 banget ngejaganya. Semangat Mbak

    BalasHapus
  7. ANak-anak memang rajanya bersenang-senang. Mereka sangat tahu cara menyikapi apapun dengan sederhana dan bahagia.
    Dulu saat rumah saya banjir juga anak-anak sering main air di dalam rumah sementara kami menanpu (mengeluarkan air dengan gayung dan ember). Melihat mereka bahagia kami juga bahagia.

    BalasHapus
  8. Puji Tuhan ga pernah ngalamin banjir masuk rumah, tp pas Januari kemarin, sempat waswas karena air banjir sudah menguap dari WC, kami sampai kerepotan angkat2 barang, benar2 parah ya banjir 2020 ini

    BalasHapus
  9. Dibawa happy saja begitu pikiran anak-anak apapun kondisinya yang penting ga terlalu sedih apalagi bermurungmuka yg penting main, dan orang tualah yg pusing memikirkan dampakbanjir dari perabotan rusak, harus ngepel dll. Tapi ya siapa bisa melawan alam,tetap bersabar dan tawakal dan apapun yang penting tetap bahagia bersama keluarga

    BalasHapus
  10. Turut prihatin atas banjir yg melanda mba. Tapi tetap semangat juga ya mba...

    BalasHapus
  11. Udah pernah merasakan rumah kebanjiran jadi tahu gimana rasanya tapi alhamdulillaah itu musibah yang patut kita hadapi dengan sabar ya Mbak

    BalasHapus
  12. Baca ini jadi ngenes sendiri karena ingat masa-masa sulit di Bandung yang sering kebanjiran. Rumah di Babakan Saei, Kiaracondong diserbu banjir langganan karena drainase tidak baik. Ditambah sampah yang menyumbat. Itu tahun '80-an dan sampah belum separah sekarang tetapi sanitasi lingkungan di beberapa titik buruk.
    Berkaitan juga dengan topografis wilayah.

    Lamongan semoga tidak kebanjiran lagi, sepertinya pemerintah harus berupaya agar ada perbaikan karena datangnya banjir tentu ada sebab akibat.
    Semoga Mbak Fiona sekeluarga tetap sehat dan dimudahkan jalan rezekinya. Ada yang terbaik dari musibah itu. Tetap semangat dan optimis di tengah situasi sulit yang terkadang membuat kita bingung dan kelelahan.

    BalasHapus

Posting Komentar