Kami saling meminta maaf via video call WhatsApp.

Akhirnya tuntas sudah kita sebagai umat muslim menunaikan kewajiban puasa sebulan penuh selama Ramadhan, saat ini tibalah hari kemenangan yang dinanti. Setelah kemarin kita menahan lapar dan dahaga juga menahan hawa nafsu, amarah dan sebagainya, sudah selayaknya kita menyambut bulan Syawal dengan gembira.

Tapi tentunya kita sadar, beberapa bulan ini kita masih dilingkupi oleh pandemi virus Corona yang menjadi momok menakutkan bagi dunia, ramadhan ini kita mungkin merasa agak berat menjalani karena tidak bebas kemana-mana untuk membeli kebutuhan ataupun menjalani tradisi ngabuburit sambil belanja takjil.

Sebenarnya kemarin saya belum berniat puasa, mengingat si bayi yang masih usia 10 bulan, saya takut akan mengganggu proses ASI nya, apalagi dia juga tidak mau makan. Tapi di sahur pertama, bismillah saya coba dulu kalau memang ada apa-apa dengan si bayi saya akan membatalkan puasa. Dan ternyata sampai puasa hari terakhir pun dia baik-baik saja. ASI memang sedikit berkurang di sore hari tapi Alhamdulillah semua lancar dan baik-baik saja.

Ternyata itu tadi belum seberapa yang berat adalah ujian perasaan dan ujian perasaan yang sebenarnya ialah saat lebaran tiba seperti hari ini. Biasanya menjelang akhir Ramadhan keluarga, sanak saudara yang ada di perantauan sudah pulang dan berkumpul dengan kita, tapi karena wabah ini membuat orang yang terkasih tak bisa mudik.

Di hari-hari sebelumnya juga sudah dihimbau untuk tidak unjung ke tetangga dan saudara jadi saya hanya menyiapkan sedikit camilan untuk dimakan sekeluarga saja. Aku adalah salah satu diantara beberapa orang yang tak memusingkan suguhan di meja, hanya secukupnya saja.

Untuk apa, toh hanya untuk dimakan sendiri karena tak ada yang berkunjung.

Ya kita harus akui, wabah ini seolah memporak-porandakan tradisi yang sudah ada sejak dulu. Kami terbiasa menikmati akhir Ramadhan berbuka juga sahur bersama-sama, Sibuk saling membujuk anak-anak yang susah bangun.

Tapi Ramadhan kali ini jauh berbeda, malah hampir seperti hari biasa tapi bedanya kami sedang berpuasa. Sekarang tak ada saling sungkem meminta maaf, Dan berganti berlama-lama ditelepon melepas rindu juga ucap maaf.

Bagaimana kesannya? Tentu saja tidak sekhusyuk ketika kita benar-benar berhadapan secara langsung, sungkem kepada emak dan kakak sambil mengingat-ingat semua salah yang pernah diperbuat, memohon maaf dan ampunan agar kembali fitrah.

Dan akhirnya suatu hari nanti, kita bisa berkisah pada anak cucu kalau kita pernah menjalani Ramadhan dalam keadaan yang membuat semuanya kurang nyaman.

Berat? Tentu saja.
Tapi tak apa, semua ini demi sehatnya bumi kita.

Post a Comment