Klenteng Kwan Sing Bio yang ada di kota Tuban ialah klenteng terluas se Asia Tenggara yang dibangun pada tahun 1977 silam. Saya sudah beberapa kali berkunjung kesini tapi nggak pernah bosan menikmati suasana yang ada di dalam klenteng, yang memang memiliki sudut keindahannya sendiri.


Berada tepat di jalur pantura dan menghadap langsung ke arah laut Jawa, klenteng yang menjunjung tinggi keberagaman agama yang ada di kota Tuban. Klenteng ini digunakan untuk tempat beribadah umat Budha, Tao dan Khonghucu yang disebut juga dengan Tri Dharma.


Bangunannya dibagi menjadi 3 tempat, tempat utama yang digunakan untuk tempat pembakaran Hio oleh Tri Dharma. Lalu tempat kedua digunakan untuk sembahyang dan meletakkan buah-buahan untuk persembahan. Dan tempat ketiga ialah di bagian belakang yang terdapat patung dewa Kwan Khong juga dewa-dewa lain yang dianggap keramat.


Dibangunan utama memang tidak semua orang boleh masuk, apalagi yang tidak berkepentingan untuk sembahyang. Tapi jangan sedih, kita tetap bisa menikmati keindahan klenteng ini dari bagian samping dan bangunan belakang kok.

 


Patung Dewa Empat Muka

Terakhir kali saya mengunjungi klenteng ini, saya dikejutkan dengan satu patung yang terlihat mencolok dan amat megah yang terdapat disisi barat bagian belakang klenteng. Patung Budha empat muka ini terlihat indah dengan warna keemasan juga ornamen lainnya yang terlihat begitu pas.


Dijelaskan, patung Brahma ini memiliki 4 sifat yaitu: Metta (mencintai kebaikan dan kebajikan), Karuna (kasih sayang), Mudita (sukacita, simpatik dan empati) dan Upeksha (keseimbangan).


Patung dewa empat muka setinggi 129 centimeter ini didatangkan langsung dari Bangkok Thailand dan diresmikan oleh Biksu Bhante Khanit Sannano Mahathera asal Thailand pada tanggal 9 November 2020. Pembangunan patung ini juga diharapkan agar umat yang belum memiliki kesempatan datang ke Thailand untuk beribadah, sudah bisa datang ke Klenteng Kwan Sing Bio ini saja karena patungnya sudah didatangkan dari Thailand langsung.

 


Patung Panglima Perang Tertinggi se-Asia Tenggara.

Sebelumnya, selain patung dewa empat muka disini juga terdapat patung Dewa Kwan Sing Tee Koen yang memiliki tinggi sekitar 30 meter, patung ini sudah mendapatkan rekor sebagai patung panglima perang tertinggi se Asia Tenggara.


Dewa Kwan Sing Tee Koen atau biasa juga dikenal sebagai Dewa Kwan Khong ini sendiri semasa hidupnya ialah jendral perang yang paling disegani pada zaman Sam Kok, tepatnya pada tahun 221 sampai 259 masehi. Beliau terkenal dengan sifat kesatria yang jujur, setia menepati janji pada sumpah yang sudah diucapkan. Sayangnya pada Kamis 16 April 2020 patung raksasa ini runtuh karena faktor cuaca.

 

Lokasi klenteng Kwan Sing Bio

Klenteng ini berada di area Pantura yang menghadap utara dan berbatasan langsung dengan laut, tepatnya di jalan Martadinata No.1 Kelurahan Larangsari, Kecamatan Kota Tuban, Kabupaten Tuban, Jawa Timur.


Untuk pengunjung muslim seperti saya, tetap bisa menikmati keindahan klenteng terbesar di Tuban ini kalau waktu sholat tiba kita tetap bisa melaksanakan sholat di musholla yang sudah di sediakan di sebelah parkiran.


Terasa indah banget ya kalau kita bisa saling menghargai dan menghormati keberagaman agama yang ada di sekitar kita. Yang terpenting kita tetap dalam keimanan masing-masing ya. 


Jadi kalian sudah pernah berkunjung ke Klenteng Kwan Sing Bio atau belum teman? Yuk ceritain juga di kolom komentar.

14 Komentar

  1. Ehh, aku kayaknya pernah lewat depan klenteng ini deh Mbaaa
    ga begitu jauh jaraknya dgn Masjid Agung Tuban ya? Yg buaguus ada payung2 ala masjid Nabawi kuwi lho?

    BalasHapus
  2. Tuban tempat kelahiran orang tua, Indonesia negeri yang indah. Ulasan tulisan menarik seperti saya mengetahui informasi.

    BalasHapus
  3. bagus banget...
    jadi sadar saya belum pernah ke Tuban
    Paska pendemi ke sana ah, sambil kulineran dan nengokin Klenteng Kwan Sing Bio ^^

    BalasHapus
  4. Belum pernah Mba. Pernah juga ke Sam Poo Kong dulu di Semarang. Daya tariknya itu ada payung Dewa Brahma dan ada patung panglima tertinggi Se-Asia Tenggara.
    Seru ya bisa jalan bareng keluarga. Memorinya terus melekat sampai nanti.

    BalasHapus
  5. Udah beberapa kali ke klenteng, tapi tetap aja kagum dengan kemewahan dan banyaknya patung yang mereka buat di situ..Sam Po Kong di Semarang, Boen Tek Bio di Tangerang, dan kelenteng Thien Ie Kong di Samarinda

    Ini semua diajak oleh tante atau kenalan aku yang Budha tentu saja, karena dari keturunan aku udah ga ada yang budha, semua kristen atau muslim

    kalo bisa masuk ke kelenteng (yang kamar ketua biarawan yang dihormati atau bhiksu) pasti lebih kagum lagi deh mbak!

    BalasHapus
  6. Aku kemaren baru dari Surabaya ko ga mampir ya ke tuban padahal deket itu, etapi kemaren itu masih zona hitam jadi ga berani mampir kemana-mana

    BalasHapus
  7. Beluuuuum hihihi :) Tapi aku pernah mampir ke Tuban yang masjidnya terkenal itu loh, malam2 jadi kurang kelihatan. Mewah ya klentengnya dan luas banget areanya. Ooooh, disediakan juga musholahnya ya, alhamdulillaah.

    BalasHapus
  8. Saya belum pernah berkunjung ke Klenteng mbak. Kalau lewat, suka lihat warna merah dan emas, ciri khasnya.

    Bagus ya di situ, Ada harmoni, disediakan mushola bagi pengunjung muslim

    BalasHapus
  9. Keren nih, ada juga yg tertinggi se Asia Tenggara. Semoga saya bisa mejeng berfoto jiga disana kelak yaa haha

    BalasHapus
  10. Wah saya punya saudara di tuban, nanti kalau kunjung ke saudara saya sempatkan mampir kesini, jadi penasaran setelah baca ulasannya

    BalasHapus
  11. Di Salatiga juga ada klenteng yang lokasinya di pusat kota dan sering dipakai untuk festival keagamaan sebelum pandemi. Tapi sepertinya enggak sebesar di kota Tuban mba..

    BalasHapus
  12. Di Salatiga juga ada klenteng yang lokasinya di pusat kota dan sering dipakai untuk festival keagamaan sebelum pandemi. Tapi sepertinya enggak sebesar di kota Tuban mba..

    BalasHapus
  13. Di Salatiga juga ada klenteng yang lokasinya di pusat kota dan sering dipakai untuk festival keagamaan sebelum pandemi. Tapi sepertinya enggak sebesar di kota Tuban mba..

    BalasHapus
  14. Komentar ini telah dihapus oleh administrator blog.

    BalasHapus

Posting Komentar