Hari ke sembilan di bulan Januari. Cuaca sudah nggak bisa diprediksi, kadang mendung gelap tapi sebentar kemudian langsung terang, tapi kalau hujan sudah sering turun dengan derasnya dan akibatnya sungai di dalam maupun di luar desa airnya penuh dan meluber.


Lamongan yang setiap tahun selalu banjir, seperti saat banjir terparah 2020 Di tahun ini pun masih ikut meramaikan khasanah perbanjiran kota ini. Banjir memang sudah jadi momok yang menakutkan apalagi untuk yang rumahnya rendah seperti rumah saya, saya mengatakan seperti ini karena rerata rumah tetangga lebih tinggi dari jalan.


Rumah saya tingginya setara jalan tapi saat hujan deras masih saja ada rasa takut air masuk ke dalam rumah, terang aja ya teman karena barang-barang di rumah saya banyak yang letaknya di bawah, seperti kasur, mainan anak-anak, dan beberapa barang lain. Jadi kalau sewaktu-waktu air masuk rumah sudah pasti bakal kalang kabut jadinya.



Warna-warni banjir tahunan di Lamongan

Lebih waspada saat musim hujan.

Saat musim hujan datang saya jadi lebih waspada terhadap kebersihan lingkungan sekitar, kebersihan saluran air jangan sampai tersumbat dari sampah, sampah botol dan gelas jangan sampai kemasukan air agar nggak jadi sarang nyamuk, segera setor ke bank sampah saat memiliki sampah yang sudah dipilah agar nggak sampai kenumpuk dan nantinya malah jadi sarang nyamuk, tikus, dll.


peduli kebersihan lingkungan sekitar sebenarnya bukan hanya saya lakukan saat musim hujan aja ya, setiap hari juga sudah saya lakukan tapi yang namanya sampah tetap aja muncul lagi – muncul lagi kan.


Selain itu kami juga sudah antisipasi keamanan tambak ikan yang sudah tentu pematang/sekat tambaknya bakal nggak kelihatan karena terendam air. Bapak petani biasanya siaga memasang waring agar ikannya nggak lepas berenang-renang keluar tambak.

 

Banjir yang tak dapat ditolak

Sejak musim hujan melanda sudah banyak laporan meluapnya air sungai di sekitaran Lamongan, tak selang berapa lama akhirnya sungai yang mengelilingi desa kami juga ikutan meluber. tapi kami masih bersyukur tanggul air di sekeliling desa masih bisa menahan derasnya air yang ada.


Air memang nggak masuk ke dalam desa tapi efeknya malah meluber dan menggenangi jalan raya depan desa juga seluruh areal tambak penduduk. Kalau dilihat bentuk tambak warga sudah nggak kelihatan, yang terlihat hanya waring yang digunakan untuk menghalangi ikan keluar masuk. Tapi tentu aja kalau ikannya niat melompat ya tetap bisa sih.

 

Memetik hikmah dari banjir

Kalau kita sudah nggak bisa menolak banjir (memangnya siapa saya? saya bukan Aang si pengendali air)maka jalan satu-satunya ialah menerima dengan lapang dada keadaan yang terjadi. Paling tidak semua sudah bahu membahu mengatasi banjir yang ada.


Lalu apa ada hikmahnya? Tentu saja ada. Saat seperti sekarang ini para laki-laki baik tua ataupun muda biasanya pergi ke kali di areal pertambakan, mereka menggunakan alat untuk mencari ikan misalnya pancing, jaring, jala, bubu, dll untuk menangkap ikan dan udang yang ada banyak di kali.


Ikan-ikan ini tentu saja ikan tambak yang lepas karena terjangan banjir, jangan berfikir hal ini bakal seperti menari di atas penderitan orang lain ya, tentu saja tidak karena kita nggak tau ikan dari tambak siapa yang lepas jadi hukumnya sah-sah aja.


Hasilnya ikan yang didapat lumayan juga, suami saya biasanya berangkat selepas subuh dan pulang di jam setengah tujuh pagi lalu lanjut berangkat kerja, pulangnya sekitar jam empat berangkat menjala ikan lagi sampai hampir magrib, udang yang didapat dari pagi dan sore sekitar 1,5 sampai 2 kg dan ikan mujair, ikan mas dll sekitar 1 sampai 2 kg. Ikan dan udang ini bisa dijual ataupun dimasak untuk lauk, tapi kalau keseringan lama-lama bosan juga ya.


 

Nah itulah tadi teman warna-warni saat banjir di Lamongan, karena disini sudah langganan banjir jadi kami sudah lebih bijak untuk antisipasi dan menyikapi banjir tahunan di Lamongan ini. Kalau di tempat kalian pernah mengalami banjir juga nggak? Yuk share di kolom komentar ya.

Post a Comment